Menyibak Praktek “Surrogacy” di India

timthumb.php timthumb-2.phptimthumb-4.phptimthumb-5.phpSebelum membaca tulisan ini, mohon tidak berpikir ini tulisan ilmiah ala-ala fakultas kedokteran yah.

Baru-baru ini marak pemberitaan di media massa terkait penangkapan sejumlah orang terkait jaringan penjualan bayi. Dalam hingar bingar berita tersebut terselip berita tentang seorang ibu yang diduga sudah mempersiapkan bayinya untuk di jual sejak dalam kandungan. Mendengar pemberitaan tersebut, ingatan langsung tertuju pada sebuah paper yang saya temukan di sebuah meja di restoran hotel di Mumbay, India. Judul paper nya agak mengundang rasa ingin tahu, “Regulation of Surrogacy in Indian Context”  (Praktek Surrogacy di India) Apa itu Surrogacy? Surrogacy (bagaimana membahasakan Indonesia nya ya? Surogasi mungkin?) Surrogacy sederhananya diartikan adanya seorang perempuan yang setuju untuk hamil untuk menggantikan pasangan tertentu atau seseorang dikarenakan mereka tidak bisa hamil. Dalam istilah kedokterannya saya kurang paham. Pastinya dalam dunia kedokteran pastilah, Surrogacy ini tidak dapat di komersialkan.

Di India dan mungkin juga Indonesia, praktek Surrogacy ini menjadi komersial. Mereka menyebutnya sebagai “Reproductive Tourism” Praktek Surrogacy ini menjadi komersial dengan nilai transaksi pertahunnya 450 juta USD, laporan ini dilansir oleh SAMA (sebuah working group untuk isu perempuan dan kesehatan, berbasis di New Delhi)

Metode Surrogacy

Para perempuan di India di rekrut untuk menjalani surrogacy ini melalui para agen yang berkeliaran di rumah-rumah penduduk, mereka berusaha meyakinkan para ibu tersebut untuk menjalani praktek surrogacy dengan imbalan berupa uang yang sangat besar. Para agen ini bekerjasama dengan para dokter dan klinik surrogacy. Nantinya para perempuan ini akan disuntikkan sel telur dari seseorang (suami dari pasangan pasangan yang ingin memiliki anak). Para perempuan yang akan menjalani surrogacy ini diseleksi terlebih dahulu dari segi kesehatan dan juga disebutkan harus mempunyai kulit yang cerah, cantik serta sehat dan bugar.

Setelah memenuhi kriteria tersebut, perempuan yang telah terpilih tersebut disuntikkan sel sperma ke dalam sel telur perempuan tersebut. Selama menjalani proses kehamilan hingga kelahiran, perempuan ini di tempatkan disebuah rumah/klinik perawatan dengan  dijaga asupan gizinya. Selama proses tersebut, mereka tidak dapat bertemu dengan keluarga, mereka yang sudah bersuami tidak diperbolehkan untuk melakukan hubungan seksual dengan suami nya, demi menjaga kemurnian embrio yang sudah ditanam tadi.

ini bagian yang paling menyedihkan menurut saya, setelah menjalani proses kelahiran melalui operasi caesar, sang ibu pinjaman ini tidak diperbolehkan menyentuh atau melihat bayi yang baru saja dilahirkan, mereka bisa saja menyusui bayi tersebut asalkan mendapat izin dari calon orangtuanya.

Banyak perempuan di India lebih memilih surrogacy ini untuk mendapatkan uang dalam jumlah besar untuk membeli rumah atau pun kebutuhan hidup lainnya. Cara ini dianggap lebih cepat ketimbang bekerja sebagai buruh pabrik dengan upah yang murah.Mereka juga terkadang mendapat stigma dari ketidaktahuan masyarakat bahwa proses pemindahan sel sperma kedalam sel telur melalui proses hubungan seksual.

Menurut data yang ada, India, Rusia, dan Ukraina mengizinkan adanya praktek surrogacy baik komersial maupun non komersial.

Bagaimana dengan Indonesia?

Sumber Tulisan : “Commercial Surrogacy in India: An Exploratory Study” ;Executive Summary, SAMA-Resource Group for Women and Health)

Foto-foto tersebut bersumber dari Harian The Jakarta Globe, diunduh pada Kamis, 10 Oktober dengan link file sebagai berikuthttp://www.thejakartaglobe.com/multimedia/eyewitness/rent-a-womb/

Stop Samsung - No More Deaths!

After six years of campaigns and petitions over 56 occupational-disease deaths at the world’s largest chipmaker, SHARPS has agreed to enter dialogue with Samsung Electronics Co., Ltd. over the question of compensation for the victims of the company’s blood-disorder clusters and their families.

“Samsung’s dialogue proposal is the result of six years of our ceaseless efforts,” said SHARPS at a press conference January 22.

“Samsung has treated my daughter’s leukemia as though it was a random disease,” said Hwang Sang-ki, who lost her daughter Yumi to occupationally caused leukemia at Samsung.  “They also treated me like a heinous fraudster,” said the 58-year-old taxi driver whose lone outcry for her daughter’s untimely death six years ago led to the formation of SHARPS.

“Because the public has been scorning Samsung, thanks to our long campaign, the company agreed to dialogue,” Hwang concluded.

Ploys

This is not the first time Samsung sought out…

View original post 471 more words